SIMALUNGUN – Polemik perubahan nama Balai Harungguan Djabanten Damanik menjadi Balai Harungguan Pahlawan Nasional Tuan Rondahaim Saragih kian memanas. Selain mendapat protes keras dari pihak keluarga, terungkap bahwa kebijakan Pemerintah Kabupaten Simalungun tersebut dilakukan tanpa adanya koordinasi dengan lembaga legislatif.
Wakil Ketua DPRD Simalungun dari Fraksi PDI Perjuangan, Samrin Girsang, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada koordinasi resmi dari pihak eksekutif terkait pergantian nama gedung ikonik tersebut kepada DPRD Simalungun.
” Tidak ada kordinasi ke DPRD, ” ungkap Samrin melalui jaringan Whattshapp. Selasa(6/1/2026).
Pernyataan ini berbanding terbalik dengan penjelasan Sekretaris Daerah (Sekda) Simalungun, Mixnon Andreas Simamora, sebelumnya yang menyebut pergantian nama ini merupakan bentuk kebanggaan atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pertama bagi putra daerah Simalungun.
Di sisi lain, putra kandung almarhum Djabanten Damanik, Jubel Fredrik Haposan Damanik, S.E., menyatakan keberatan yang mendalam atas kebijakan tersebut. Ia menilai pemerintah tidak menghargai sejarah besar ayahnya yang telah memilih Kecamatan Raya sebagai ibu kota Simalungun atas masukan tokoh adat.

“Hati kami tergores. Berdirinya Kabupaten Simalungun di Raya bukan karena Tuan Rondahaim Saragih. Tolong hargai sejarah yang dibuat ayah saya,” tegas Jubel.
Jubel juga mengingatkan agar pemerintah tidak mengambil langkah yang berpotensi memicu gesekan antar marga di Simalungun.
Ia menyarankan agar nama Pahlawan Nasional Tuan Rondahaim Saragih disematkan pada objek atau bangunan lain tanpa harus menghapus jejak sejarah tokoh yang sudah ada.
Situasi ini semakin sensitif karena adanya kesamaan marga antara Bupati Simalungun saat ini dengan sang Pahlawan Nasional. Jubel menyebut langkah ini terkesan subjektif dan seperti “aji mumpung” karena Bupati menjabat dari marga yang sama.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat menunggu langkah mediasi antara Pemkab Simalungun, pihak keluarga ahli waris, dan DPRD guna mencari solusi terbaik agar semangat penghormatan pahlawan tidak mencederai sejarah tokoh pembangunan daerah lainnya.(ArD)




