Oleh: Romasdo M. Saragih – Ketua Pengurus Seksi Namaposo Sinode GKPS | Cita-cita mulia negara Indonesia yaitu memiliki generasi emas 2045, saat tepat 100 tahun Indonesia merdeka. Generasi Emas 2045 adalah sebuah wacana dan gagasan dalam rangka mempersiapkan para generasi muda Indonesia yang berkualitas, berkompeten, dan berdaya saing tinggi.
Apakah ini hanya sekedar wacana? Maka diseminasi gagasan itu gencar dilakukan untuk menginspirasi generasi muda agar lebih bersemangat dalam belajar banyak hal dan berkarya di segala bidang.
Menurut Saya wacana dan gagasan ini harus diresapi dan oleh anak muda, utamanya Gen Z, dan pastinya akan menjadi generasi penerus negara kita ini melalui aksi nyata dan niat yg baik. Suara anak muda ini sangat penting dan memiliki kekuatan untuk menyuarakan dan mendobrak hal yang salah oleh para pemangku kebijakan di atas.
Pada tahun 2045 mendatang, Indonesia diperkirakan akan mendapatkan “BONUS DEMOGRAFI,” yang artinya dimana 70 persen jumlah penduduk Indonesia berada dalam usia produktif (15-64 tahun), sedangkan 30 persen sisanya berusia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun (dikutip dari laman Indonesia baik Ditjen IKP KemenKominfo).
“Bonus Demografi” merupakan peluang yang langka bagi suatu negara. Bonus demografi dapat dioptimalkan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Cara Mengoptimalkan Bonus Demografi antara lain:
– Mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan masa depan.
– Memanfaatkan bonus demografi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, meningkatkan produktivitas nasional, dan meningkatkan daya saing nasional.
Menurut saya Generasi Emas adalah generasi yang harus berani bertindak dan jangan pernah takut menghadapi masalah. Artinya, anak muda, khususnya “NAMAPOSO GKPS,” harus berani bersuara, bertindak, dan mengakui kesalahan. Saya selalu mengatakan, sebagai Namaposo GKPS kita harus “Berani Menghadapi Masalah.” Sebab, masalah terbesar adalah ketika kita tidak berani menghadapi masalah. Untuk itu, namaposo GKPS harus siap dalam menghadapi tantangan masa depan.
Seperti yang kita ketahui, bahwa kita saat ini dihadapkan dan berada di Zaman Era Digitalisasi, dan sebagai pemuda kita juga harus bijak-bijak dalam mengikuti Zaman Era Digitalisasi saat ini. Besar harapan agak pemuda lebih memanfaatkan teknologi saat ini ke arah positifnya.
Melihat situasi saat ini, sekitar lebih kurang 32 ribu pemuda GKPS masih belum optimal dalam memberikan dampak positif bagi gereja dan masyarakat. Di berbagai kesempatan, kita bisa melihat ada begitu banyak pemuda yang lebih meluangkan waktunya untuk memegang handphone daripada memberikan ide-ide kreatif dan produktif.
Seperti konsep yang sudah saya rencanakan ke depan akan mengadakan pelatihan-pelatihan bagaimana namaposo (pemuda) menggunakan digitalisasi ini agar lebih bernilai untuk kemajuan masing-masing pemuda (namaposo). Apakah Generasi Emas ini sulit terwujud? Tentu tidak, jika kita sama-sama sebagai generasi muda memiliki pemikiran dan ide yang cemerlang untuk Indonesia ke depannya. Kita juga harus memiliki konsistensi untuk berkontribusi dalam bidang yang digeluti masing-masing, seperti: bidang seni, bidang pendidikan, bidang sosial, dan bidang lainnya.
Tentu banyak proses dan tahapan yang harus dilalui menuju generasi emas 2045 ini. Tahapan ini tidak terbentuk secara tiba-tiba tepat pada 100 tahun Indonesia merdeka. Layaknya seperti emas yang perlu dipanaskan dan ditempa dalam suhu tinggi, maka generasi emas juga harus melewati hal tersebut. Kita perlu banyak belajar, bersosialisasi, dan mengetahui problematika dalam negeri. Kita juga perlu banyak mengisi banyak pengetahuan diri, sehingga nantinya menjadi generasi yang matang dan siap menghadapi problematika yang terjadi baik di bidang budaya, politik, isu keagamaan, dan lainnya.
Kesimpulannya, sebagai anak muda generasi emas 2045, secara khusus namaposo (pemuda) GKPS, kita harus meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), mengadopsi teknologi digital dan media sosial positif, membangun jaringan dan kolaborasi, mengangkat budaya lokal melalui produk kreatif, serta meningkatkan mutu pendidikan. Dengan demikian, terciptalah Generasi Emas yang produktif, inovatif, berdaya saing tinggi, damai dalam interaksi sosial, dan berperadaban unggul.
OLEH: ROMASDO SARAGIH