LONGGAR, KEPULAUAN ARU – Situasi kesehatan pasca-bentrokan berdarah antara Desa Longgar dan Desa Apara menjadi prioritas utama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru. Kepala Dinas Kesehatan, dr. Sakti Zakaria Sitorus, didampingi Kepala Puskesmas Longgar Apara, dr. Jhon Maydeni Purba, bergerak cepat memimpin penanganan medis terhadap puluhan korban luka serta memastikan distribusi tenaga kesehatan (nakes) kembali ke titik tugas, Senin (12/01/2026).
Konflik yang pecah beberapa hari lalu ini diketahui menyisakan duka mendalam dengan 2 warga Desa Longgar meninggal dunia akibat terkena anak panah, serta 36 orang dari kedua desa mengalami luka-luka serius akibat sabetan senjata tajam, busur panah, hingga tembakan senapan angin.
Merespons banyaknya korban luka, Kepala Puskesmas dr. Jhon Maydeni Purba mengambil langkah taktis untuk memperkuat tim medis di lapangan. Selain membuka layanan di Kantor Desa Apara agar warga yang bertikai merasa aman saat berobat, dr. Jhon menegaskan bahwa seluruh tenaga kesehatan yang sebelumnya sempat berada di luar wilayah segera didistribusikan kembali ke tempat tugas.
“Kami fokus pada penanganan 36 korban luka agar tidak terjadi komplikasi infeksi akibat luka bacok atau busur panah. Saya juga telah menginstruksikan seluruh nakes yang belum berada di tempat untuk segera masuk dan mengisi pos-pos pelayanan. Distribusi nakes dipercepat guna menjamin layanan 24 jam di masa darurat ini,” tegas dr. Jhon Purba.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan dr. Sakti Zakaria Sitorus yang turun langsung selama tiga hari di wilayah konflik, memastikan stok obat-obatan bedah minor, antibiotik, dan alat medis untuk penanganan luka bacok serta luka tembus senapan angin tersedia dalam jumlah cukup.
“Dua nyawa sudah melayang, kita tidak ingin jumlah ini bertambah. Kehadiran saya di sini bersama dr. Jhon adalah untuk memastikan penanganan 36 korban luka ditangani secara intensif. Kami menjamin pasokan medis tidak boleh putus. Bagi para nakes yang kita distribusikan kembali, kami berkoordinasi dengan pihak keamanan agar mereka dapat bekerja dengan tenang,” ujar dr. Sakti Sitorus.
dr. Sakti juga menyampaikan pesan penyemangat atas pengabdian para tenaga kesehatan yang bertugas.
“Saya tahu kalian lelah, dalam tugas mulia ini, jadikanlah ketakutan dan kesepian itu sebagai guru terbaikmu. Dari sanalah mental pengabdian kita ditempa untuk menjadi pelayan masyarakat yang sejati,” pesan dr. Sakti Sitorus kepada para pegawai Puskesmas Longgar Apara.
Kehadiran duet Kadinkes dan Kapus di lokasi konflik ini membawa misi kemanusiaan yang netral. Penanganan medis diberikan secara adil kepada seluruh korban dari kedua desa yang bertikai. Fokus utama mereka saat ini adalah stabilisasi kesehatan masyarakat dan pemulihan psikis nakes agar pelayanan di Puskesmas Longgar Apara maupun posko darurat di Kantor Desa Apara tetap berjalan maksimal.
Upaya mobilisasi nakes dan penanganan korban yang dipimpin langsung oleh dr. Sakti dan dr. Jhon ini diharapkan mampu meredam trauma masyarakat dan memastikan negara hadir di tengah situasi krisis. (*)





