PEMATANGSIANTAR | Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar bergerak cepat menjaga stabilitas harga pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H. Melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematangsiantar, Pemko mengajak pedagang besar dan distributor untuk menjaga kelancaran distribusi.
Mewakili Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi, SH, MKn, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Zainal Siahaan, SE, MM menekankan pentingnya peran distributor dalam mengendalikan inflasi daerah.
Belajar dari Pengalaman 2025
Zainal memaparkan bahwa pada tahun 2025, Pematangsiantar sempat masuk dalam 10 besar inflasi tertinggi nasional (5,37%). Namun, berkat kerja keras TPID, pada Januari 2026 kondisi sudah menunjukkan deflasi.
“Kami ingin memastikan harga terjangkau. Jangan sampai ada pedagang yang mencari kesempatan dengan menimbun barang. Kita berlakukan simbiosis mutualisme; pedagang tetap profit, pasokan terjaga, dan daya beli masyarakat terlindungi,” tegas Zainal di Kantor BI Pematangsiantar, Rabu (25/02/2026).
Strategi K4 dan Pemetaan Distribusi
Kepala Perwakilan BI Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, menjelaskan bahwa ketergantungan pasokan dari daerah luar (seperti Simalungun dan Batubara) membuat jalur distribusi sangat sensitif terhadap gangguan, termasuk bencana alam.
Untuk itu, BI dan Pemko menerapkan strategi K4:
-
Keterjangkauan Harga (melalui operasi pasar).
-
Ketersediaan Pasokan (menyusun neraca pangan).
-
Kelancaran Distribusi (digitalisasi perdagangan).
-
Komunikasi Efektif (imbauan belanja bijak).
Komoditas Pemicu Inflasi
Ahmadi juga mengungkapkan data evaluasi tahunan:
-
2024: Cabai merah sebagai penyumbang inflasi terbesar saat Lebaran.
-
2025: Tarif listrik.
-
Januari 2026: Emas perhiasan.
Diskusi yang dipandu oleh Kadis Koperasi UKM dan Perdagangan Herbet Aruan ini dihadiri oleh berbagai OPD terkait, Bulog, serta perwakilan distributor besar untuk menyepakati komitmen ketersediaan stok hingga Idul Fitri mendatang. (*)





