SIMALUNGUN – Bagi sebagian orang, jalan mungkin hanya menjadi tempat untuk melintas. Namun bagi masyarakat di Kecamatan Silou Kahean, Kabupaten Simalungun, jalan adalah bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Dari jalan itulah hasil pertanian dibawa keluar kampung, anak-anak pergi ke sekolah, masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi, hingga pengunjung datang menikmati potensi wisata yang ada.
Namun, kondisi sejumlah ruas jalan di Kecamatan Silou Kahean hingga kini masih menjadi perhatian masyarakat. Kerusakan yang telah berlangsung cukup lama membuat warga harus terbiasa melewati jalan dengan kondisi yang kurang nyaman.
Sedikitnya terdapat empat ruas jalan utama yang menjadi perhatian masyarakat. Yakni Nagori Damakkitang–Nagori Tani sekitar 6 kilometer, Nagori Damakkitang–Nagori Sinasih sekitar 8–9 kilometer, Nagori Dolok–Nagori Dolok Marawa sekitar 6 kilometer, serta Nagori Simanabun–Pangalbuan Raya sekitar 28 kilometer.
Jika dijumlahkan berdasarkan perkiraan tersebut, panjang ruas jalan yang menjadi perhatian masyarakat mencapai sekitar 48–49 kilometer.
Kondisi jalan yang rusak membuat masyarakat tidak hanya menunggu. Di beberapa titik, warga secara swadaya berusaha memperbaiki bagian jalan yang rusak agar kendaraan masih dapat melintas. Hal itu juga dirasakan masyarakat di Nagori Dolok Marawa.
Tokoh masyarakat Silou Kahean, Surya Sipayung, yang merupakan Ketua Tumpuan Sipayung Boru Panogolan Kecamatan Silou Kahean, mengatakan masyarakat berusaha menjaga akses jalan tersebut karena merupakan jalur penting untuk aktivitas mereka.Surya sendiri merupakan kelahiran Nagori Dolok Marawa.
“Ini upaya masyarakat, kerja sama masyarakat memperbaiki jalan agar dapat dilewati kendaraan, karena ini merupakan jalan utama masyarakat dalam mengeluarkan hasil tani,” kata Surya saat dikonfirmasi melalui jaringan WhatsApp, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, semangat gotong royong masyarakat merupakan bentuk kepedulian warga terhadap kampung halaman. Namun, untuk memperbaiki ruas jalan yang panjang, tentu dibutuhkan penanganan yang lebih besar dan berkelanjutan.
Nagori Dolok Marawa bukan hanya dikenal sebagai kawasan permukiman dan pertanian. Daerah ini juga memiliki potensi wisata alam yang cukup dikenal, yakni Cagar Alam Kawah Putih Tinggi Raja.
Namun, perjalanan menuju kawasan tersebut juga tidak terlepas dari persoalan kondisi jalan.
Bagi pengunjung, perjalanan menuju destinasi wisata tentu akan terasa berbeda ketika harus melewati ruas jalan yang rusak. Bagi masyarakat setempat, persoalan tersebut bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut harapan agar potensi daerah dapat berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
Surya berharap kondisi tersebut mendapat perhatian pemerintah. Ia memahami bahwa pembangunan infrastruktur membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Karena itu, menurutnya, diperlukan langkah dan koordinasi bersama agar persoalan jalan di Silou Kahean dapat ditangani secara bertahap.
Jika kemampuan anggaran pemerintah kabupaten terbatas, ia berharap dapat dilakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sesuai kewenangan dan kebutuhan penanganan masing-masing ruas.
“Kalau bicara anggaran tidak mencukupi, bagaimana kita membijaki, bagaimana untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara,” ujar Surya.
Dengan jalan yang lebih baik, hasil pertanian lebih mudah dibawa ke pasar, aktivitas masyarakat menjadi lebih lancar, anak-anak lebih mudah bersekolah, dan potensi wisata dapat berkembang.
Masyarakat Silou Kahean pun berharap perhatian terhadap infrastruktur tidak berhenti pada keluhan, tetapi perlahan dapat diwujudkan melalui perbaikan nyata di lapangan.
Sebab bagi warga di pelosok Simalungun, perbaikan jalan bukan sekadar pembangunan fisik. Di balik jalan yang baik, ada harapan tentang kehidupan yang lebih mudah dan masa depan kampung yang lebih baik.(ArD)






