PEMATANGSIANTAR – Polres Pematangsiantar didesak untuk segera bergerak cepat menangkap puluhan pelaku pengeroyokan brutal terhadap seorang pemuda bernama Hikmal A. Boang Manalu (19) dan rekan-rekannya. Insiden tragis ini terjadi di kawasan Kampus Universitas Simalungun (USI), Minggu (1/6/2026) sekitar pukul 18.00 WIB.
Aksi premanisme tersebut dinilai sangat tidak manusiawi. Korban tidak hanya dikeroyok secara massal, tetapi juga mendapat ancaman senjata tajam jenis parang, dipukul menggunakan kayu, hingga wajahnya disulut dengan api rokok.
Ayah korban, Jannes Boang Manalu, membeberkan bahwa peristiwa tersebut bermula saat Hikmal bersama teman-temannya berniat untuk bermain sepak bola di Lapangan USI. Karena satu dan lain hal, rencana tersebut batal. Sialnya, saat hendak perjalanan pulang, rombongan korban langsung dicegat oleh puluhan orang tak dikenal.
“Mereka mau main bola di lapangan USI, tetapi tidak jadi. Saat hendak pulang, mereka dicegat. Anak saya ditarik dari kereta (sepeda motor), kemudian dipukuli. Mata sebelah kirinya lebam, kepalanya dipukul menggunakan kayu, pipi kanan dibakar dengan rokok, dan lehernya diancam menggunakan parang,” ungkap Jannes dengan nada geram.
Jannes, yang juga merupakan wartawan senior sekaligus menjabat sebagai Ketua Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI), menyebutkan ada sedikitnya empat orang pemuda yang menjadi korban dalam aksi pengeroyokan massal tersebut.
Dari empat korban, dua di antaranya mengalami luka yang cukup parah Reza (17) mengalami luka serius dan saat ini masih harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Tiara, Pematangsiantar.
Hikmal A. Boang Manalu (19) mengalami luka lebam di mata, bekas sulutan rokok di pipi, serta trauma akibat ancaman senjata tajam.
Tidak terima dengan perlakuan premanisme tersebut, pihak keluarga korban telah resmi membuat laporan pengaduan ke Polres Pematangsiantar. Jannes mendesak aparat kepolisian tidak mengulur waktu untuk menyeret para pelaku ke sel tahanan.
“Saya berharap Polres Pematangsiantar segera menangkap seluruh pelaku. Perbuatan mereka sangat tidak manusiawi, sampai menyulutkan api rokok ke wajah anak saya. Jangan sampai ada korban lain baru aparat bergerak.
Keamanan masyarakat merupakan tanggung jawab negara melalui aparat kepolisian,” tegas Jannes.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya meminta keterangan resmi dari pihak Polres Pematangsiantar terkait perkembangan penyelidikan dan pengejaran para pelaku di lapangan.(ArD)






