PEMATANGSIANTAR — Di tengah gempuran tren modernisasi, upaya melestarikan warisan budaya lokal terus digalakkan di Kota Pematangsiantar. Sebanyak 38 pelajar dari 19 SMP Negeri dan Swasta tampil menawan memamerkan busana adat Simalungun dalam ajang Lomba Fashion Show Pakaian Adat Simalungun, Rabu (22/07/2026) pagi.
Berlangsung di Aula SMP Budi Mulia, Jalan Melanthon Siregar, Kecamatan Siantar Marihat, acara ini dibuka langsung oleh Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) sekaligus Ketua TP PKK Kota Pematangsiantar, Ny. Liswati Wesly Silalahi.
Dalam arahannya, Ny. Liswati memompa semangat para peserta agar tampil penuh percaya diri dan tidak sekadar mengejar piala.
“Kepada anak-anakku peserta lomba, tampillah penuh percaya diri. Kemenangan sejati adalah ketika kalian tampil dengan bangga mengenakan identitas adat Simalungun. Jika meraih kemenangan, itu merupakan bonus,” tutur Ny. Liswati.
Simbol Kehormatan dan Identitas ‘Habonaron do Bona’
Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi, S.H., M.Kn., yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan, Syaiful Rizal, S.S.T.P., menegaskan bahwa kebudayaan Simalungun dengan falsafah Habonaron do Bona adalah akar kearifan lokal yang harus dijaga.
Menurutnya, mengenalkan pakaian adat seperti Hiou, Gotong (penutup kepala pria), dan Bulang (penutup kepala wanita) kepada generasi muda adalah langkah krusial.
“Pakaian adat bukan sekadar helai kain indah yang kita kenakan, melainkan simbol kehormatan, identitas, dan warisan leluhur yang menyimpan cerita filosofi luhur. Tunjukkan pesona dan senyum terbaik di panggung, jadikan ini titik awal mencintai kebudayaan lokal,” pesan Syaiful membacakan sambutan Wali Kota.
Penilaian Objektif dan Penampilan Seni Lintas Sekolah
Kepala Bidang Pendidikan Non Formal dan Kebudayaan Dinas Pendidikan, Fakhrudin Sagala, M.Pd., memaparkan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat karakter pelajar agar menghormati kearifan lokal sekaligus memberikan ruang berekspresi.
Untuk menjamin keadilan, panitia menerapkan sistem penilaian blind identity. Salah satu dewan juri, Hotman Damanik (Budayawan dan Arsitek), menegaskan bahwa juri hanya menilai berdasarkan nomor urut tanpa mengetahui asal sekolah peserta.
“Bertandinglah secara fair play. Kami akan berusaha menilai secara objektif berdasarkan penampilan dan tata cara pemakaian perangkat adat,” tegas Hotman, yang menjuri bersama Arif Hidayat Lubis (Putra Kebudayaan Sumut) dan Kawan Jatinggi Purba, S.Pd., M.Pd. (Tokoh Adat PMS).
Semarak acara ini juga diwarnai dengan suguhan kesenian memukau, mulai dari Tortor Sombah yang dibawakan pelajar UPTD SMPN 1 hingga Tarian Multi Etnis persembahan SMP Yayasan Perguruan Sultan Agung.
Turut hadir meramaikan kegiatan ini:
-
Jajaran Dinas Pendidikan Kota Pematangsiantar
-
Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Pematangsiantar
-
Tokoh Adat dan Budaya Simalungun
-
Pengurus TP PKK Kota Pematangsiantar
-
Kepala Sekolah dan Guru Pendamping se-Kota Pematangsiantar






