SOLO — Tokoh muda Sumatera Utara (Sumut), Lamhot Rotuah Saragih, ST, melakukan pertemuan khusus dengan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), di kediamannya di Solo, Jawa Tengah. Pertemuan ini membahas langkah strategis penguatan kemandirian pangan nasional berbasis potensi lokal di Sumatera Utara.
Dalam pertemuan tersebut, Lamhot menyampaikan besarnya potensi sektor pertanian Sumut yang perlu dikelola secara berkelanjutan. Menurutnya, kemandirian pangan tidak boleh sekadar fokus pada angka produksi, melainkan harus berdampak langsung pada kesejahteraan petani dan masyarakat lokal.
“Saya menyampaikan kepada Bapak Jokowi mengenai potensi dan agenda kemandirian pangan di Sumatera Utara. Potensi daerah kita sangat besar dan perlu dikembangkan secara berkelanjutan agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” tegas Lamhot usai pertemuan.
<span;>Tindak Lanjut: Jokowi Dijadwalkan Kunjungi Simalungun
Pertemuan strategis ini membuahkan rencana konkret. Jokowi dijadwalkan bakal melakukan kunjungan kerja langsung ke Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, untuk meninjau potensi pertanian serta kondisi para petani di lapangan.
Rencana kunjungan tersebut dinilai menjadi sinyal positif atas perhatian pemerintah dan tokoh nasional terhadap sektor agraris di Sumatera Utara. Simalungun sendiri diproyeksikan menjadi salah satu lumbung pangan utama dalam memperkuat ketahanan pangan regional maupun nasional.
Potensi Utama: Luas lahan agraris dan komoditas unggulan di Kabupaten Simalungun.
Fokus Kunjungan: Peninjauan langsung kondisi petani dan langkah konkret modernisasi pertanian.
Kunci Keberhasilan: Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, pelaku usaha, dan kelompok tani.
“Kita berharap kunjungan Pak Jokowi ke Simalungun nantinya dapat menjadi momentum untuk melihat langsung potensi yang ada sekaligus membicarakan langkah konkret dalam mendorong kemandirian pangan di Sumatera Utara,” tambah Lamhot.
<span;>Mendorong Kolaborasi Multi-Pihak
Lamhot menekankan bahwa cita-cita mewujudkan kemandirian pangan di Sumatera Utara tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat petani sebagai pelaku utama di lapangan.
Melalui pertemuan di Solo dan rencana kunjungan ke Simalungun ini, ia berharap perhatian nasional terhadap sektor pertanian di Sumatera Utara semakin meningkat, sekaligus melahirkan program-program riil yang berdampak pada peningkatan ekonomi daerah.(*)






